Buta Mata Bukan Berarti Buta Hati dan Menyerah begitu saja

Posted on
Jamkho produk alami

Buta Mata Bukan Berarti Buta Hati dan Menyerah begitu saja

Saya mempunyai sebuah pengalaman yang sangat menarik pada saat masih duduk di kelas 11 SMA . pada suatu hari jum’at yang  cerah setelah jam pelajaran selesai, seperti biasa saya dan teman teman pergi ke Mesjid untuk melaksanakan shalat Jum’at. berbeda dengan murid yang lainnya, kita sering shalat jum’at diluar Mesjid Sekolah yang telah disediakan. Dulu kami sering shalat di mesjid sebuah pesantren modern yang tidak jauh dari sekolah.

pada hari itu kita memutuskan untuk jajan mie ayam dulu sebelum masuk mesjid, ketika sedang enak menikmati mie ayam saya melihat seseorang yang turun dari angkot, seseorang yang tidak lebih beruntung dari kita, beliau tidak dapat melihat selayaknya kita dan beliau turun sendiri dari angkot itu. pada saat itu juga sekelebat saya berpikir “bapak bapak buta ini, kenapa harus memaksakan diri pergi ke mesjid yang sangat jauh padahal mungkin ditempat asalnya ada mesjid yang lebih dekat “.

Dari kejauhan saya melihat beliau dituntun oleh seseorang, dalam benak saya mungkin saja itu anak atau saudaranya. setelah kenyang memakan mie ayam, kami memutuskan untuk langsung pergi ambil wudlu. Setelah mengambil wudlu saya melihat bapak yang tadi sedang berusaha berjalan ke arah mesjid dengan cara mengikuti susunan tiang, beliau kesusahan karena lantai yang basah sepanjang jalan ke arah mesjid.

Merasa kasihan, saya pun langsung menggapainya dan menuntun beliau berjalan kearah mesjid

” terima kasih, dek” katanya

“sama sama, Pak” Jawabku

“ayo kita kedalam, pak. sebentar lagi mesjidnya penuh” saya melanjutkan pembicaraan

tanpa basa basi lagi kita langsung menuju mesjid. ketika mulai masuk ke mesjid saya melihat sudah lebih dari setengah luas mesjid  terisi oleh jama’ah. saya membawa si Bapak tadi ke Shaf agak belakang.

“Dek, ini sudah Shaf paling depan ?” tanya si bapak

“bukan pak, ini agak belakang ” Jawabku

“dek, kalo di depan kita dapet kerbau, di belakang kita cuman dapet ayam” terus si bapak

badan saya pun membeku pada saat itu karena ucapan sibapak tadi, saya merasa bingung dan malu dengan orang ini. kenapa saya yang normal, yang diberi nikmat lebih tidak ingat akan hal itu. bahwasanya saya harus berlomba lomba mengisi shaf yang paling depan untuk mendapat keberkahan yang lebih. sedangkan kebiasaan saya dan orang orang mainstream justru mengambil shaf yang paling belakang agar bisa bersandar atau sekedar agar bisa pulang lebih cepat.

“ba ba baik pak, saya akan coba membawa bapak kedepan” sambil terbata saya pun menjawab

meskipun agak kerepotan, saya coba terus menuntun sibapak ke shaf paling depan yang masih bisa diisi. shaf itu hanya bisa diisi satu orang lagi, saya biarkan bapak tadi mengisi shaf itu dan saya duduk tidak jauh di belakangnya.

Buta Mata Bukan Berarti Buta Hati dan Menyerah begitu saja

Gambar bukan ilustrasi hanya pemanis saja 🙂

Setelah shalat jum’at selesai saya langsung pulang sedangkan si bapak tadi masih berdo’a. saya berharap ada seseorang yang menuntunnya untuk keluar nanti dan pulangnya.

kejadian ini menjadi trigger atau menjadi sebuah sugesti buat saya sendiri. jika suatu hari saya akan melaksanakan shalat dan ketika itu ingat dengan kejadian ini, hati ini merasa malu jika tidak berusaha mencari shaf paling depan maka secepat mungkin saya mencari shaf yang paling depan yang masih bisa di isi.

Semoga Cerita ini menjadikan inspirasi untuk saya dan untuk anda, para pembaca. bahwa kekurangan kita jangan sampai menjadi alasan bagi kita untuk tidak berusaha semaksimal mungkin.

My Journey – Buta Mata Bukan Berarti Buta Hati dan Menyerah begitu saja

Kasih masukanmu di sini