Kehidupan Selanjutnya bukan hanya untuk diri sendiri

Posted on

Jakarta, merupakan kota yang sangat sibuk. sepanjang hari kendaraan selalu memenuhi setiap ruas jalan bahkan di hari libur tak pernah sepi. hari ini tanggal 30 Juni 2013, saya mengalami suatu kejadian yang membuat otak sedikit berputar.

Melanjutkan Kuliah S1 di jakarta merupakan suatu pilihan tunggal yang tidak bisa di hindari  karena tempat bekerja saat ini bertempat di Jakarta . Hari ini dengan terpaksa harus pergi ke kampus untuk mengganti hari kuliah yang harusnya di isi kemarin. seperti biasa pagi pagi berangkat ke kampus dengan menggunakan taksi. memang dari segi biaya itungannya menjadi lebih mahal jika di bandingkan dengan kendaraan umum. tetapi, jika menggunakan taksi akan lebih cepat sampai dan tidak perlu berjalan jauh pada saat mengganti kendaraan umum satu ke kendaraan lain.

Hari ini tidak seperti biasanya saya pulang sendiri. karena teman yang sering bareng hari ini tidak kuliah. dalam benakku karena pulang sendiri, ingin rasanya mencoba memakai angkutan umum pada saat pulang. pertama naik kopaja kemudian naik transjakarta dan terakhir naik angkot. wuih semuanya di coba dalam satu perjalanan berarti hehehe.

Pada saat naik kopaja masih ada temen yang searah dan semuanya berjalan normal normal saja karena kopajanya sedang tidak terlalu penuh. ya meskipun tetap harus berdiri 🙂

kejadian unik justru terjadi pada saat menaiki trans jakarta. sekarang kendaraan umum yang satu ini merupakan kendaraan favorite untuk warga yang tinggal dijakarta. selain masih terjangkau, lebih nyaman jika dibandingkan dengan kopaja atau metro mini. Hari ini ternyata penuh sekali, hampir setengah jam saya menunggu. bis yang lewat selalu penuh. karena sudah terlalu lama menunggu akhirnya saya pun nekat untuk memasuki bis yang penuh.

Pada saat masuk kedalam bis tanpa sengaja saya sedikit mendorong seorang bapak yang sedang menggendong anaknya dari belakang. posisi anaknya berada di pangkuan bapaknya atau dengan kata lain berada dibagian depan ayahnya. lantas si bapak tadi sedikit teriak “Awas hey saya lagi gendong anak, jangan dorong dorong” sambil melihat ke arah wajah saya. saya pun hanya tersenyum menandakan meminta maaf kepada si bapak. dalam hati saya wajar lah seorang bapak membuat anaknya senyaman mungkin meskipun dalam keadaan desak desakan seperti itu.

Saat itu pula pikiran saya pun melayang, apakah memberi kenyamanan seperti itu kepada anak dirasa cukup ? kenapa tidak membeli kendaraan sendiri seperti motor misalkan, syukur syukur bisa kebeli mobil. untuk kehidupan lajang seperti saat ini, masuk desak desakan dengan orang lain tanpa ada “buntut” yang harus di jaga ya oke oke saja. tetapi jika di belakang kita ada orang yang kita sayangi yang harus di jaga dan di beri kenyamanan oleh kita ? hmmm….. sungguh membingungkan. saya jadi berpikir bahwa di suatu hari nanti jika sudah berkeluarga sebisa mungkin mempunyai satu jenis kendaraan baik sepeda motor atau pun mobil selain kendaraan juga nafkah yang baik harus mereka dapatkan. momen ini sangat berharga karena kembali menyadarkan saya untuk selalu mengingat bahwa kehidupan selanjutnya bukan hanya untuk diri sendiri melainkan ada keluarga yang harus di jaga dan di bahagiakan. so jangan lupa untuk berusaha maksimal untuk mempersiapkan segalanya dengan baik. karena persiapan merupakan bagian dari niat dan Do’a.

si Bapak tadi terus saja menggerutu sepanjang perjalanan dan saya hanya bisa membalasnya dengan senyum. karena dipikiran ini adalah bahwa sang bapak berusaha dengan sebaik baiknya melindungi dan membuat nyaman sang buah hati. saya berpikir tidak sedikit di jaman ini ayah menelantar anaknya sedangkan si bapak ini ada keperdulian untuk anaknya dan apresiasi harus selalu diberikan. 🙂

mulai hari ini saya harus lebih semangat untuk mempersiapkan segalanya dengan baik, Kehidupan Selanjutnya bukan hanya untuk diri sendiri

gambar diambil dari wajahbocah.com

 

 

Kasih masukanmu di sini