Polemik PR Matematika SD kelas 2 Di Semarang

Posted on

Polemik PR Matematika SD kelas 2 Di Semarang | Baru baru ini banyak beredar berita tentang tugas pekerjaan rumah matematika SD kelas 2 di semarang. Hanya PR Matematikaa SD kelas 2 saja kenapa bisa seramai ini diberita ? Ā itu karena gambar yang tampil dalam berita tentang hal tersebut menggambarkan sesuatu yang ganjil. Jawaban yang dituliskan oleh Habibi kelas 2 SD di semarang ini disalahkan oleh guru nya. Padahal sepengetahuan kita jawaban yang ditulis oleh anak ini benar.

Berikut ini adalah gambar PR matematika Habibi

Polemik PR Matematika SD kelas 2 Di Semarang

Erfas, Kakak dari habibi tidak menerima hasil yang diberikan oleh guru adiknya tersebut. Karena dia yakin bahwa jawaban yang dituliskan adiknya tersebut sudah benar. Dan dia sendiri yang membantu mengajarkan adiknya mengisi PR tersebut.

Sebenarnya ini hanya masalah sudut pandang dalam mengerjakan soal tersebut. ada dua sudut pandang yang berbeda dalam pengerjaannya. Ketika mendengar berita tentang ini, saya langsung mendiskusikannya dengan teman kantor. Kebetulan masing masing dari kita memiliki sudut pandang yang beda.

Pertama adalah sudut pandang Habibi sama dengan sudut pandang teman saya. Cara mengerjakan soal seperti itu pertama tama melihat objek yang akan dihitung. Kita ambil contoh nomor satu saja, Objek yang akan di hitung adalah 4 maka kita menuliskan angka 4 pada jawaban kemudian disusul dengan “x” (kali). Setelah itu tambahkan berapa kali objek tersebut muncul, di soal nomor satu ini angka 4 muncul sebanyak 6 kali. Jadi penulisannya “4 x 6″, selanjutnya tinggal masukin hasil dari perhitungan tersebut 4 x 6 = 24.

Yang kedua adalah sudut pandang dari guru sama dengan sudut pandang saya sendiri. Cara mengerjakan soalnya, yang dilihat adalah berapa kali objek muncul terselibih dahulu. misalkan di soal nomor satu angka 4 muncul sebanyak 6 kali. yang ditulis pada jawaban adalah ” 6 x” kemudian disusul dengan objeknya menjadi “6 x 4”. Setelah itu tinggal menghitung hasilnya menjadi “6 x 4 = 24”. Metode ini saya rasa lebih bagus dari pada sudut pandang yang pertama. karena untuk matematika tingkat lanjut dengan menggunakan variabel contoh penulisan yang benar ketika ada objek “a” berjumlah 6 buah adalah “6a” bukan “a6”.

Yang salah disini adalah memaksakan pola pikir dari gurunya sendiri. Anak kecil memiliki pola pikir yang masih benar benar bersih, mereka akan menemukan jawaban dengan kreativitasnya masing masing, Anak dengan kebebasan berpikir akan jauh berkembang dibandingkan dengan anak yang dipaksa untuk memiliki pola pikir yang sama dengan pengajarnya.

Sebelum memutuskan jawabannya salah atau benar, alangkah baiknya sang guru menanyakan terlebih dahulu bagaimana Habibi menemukan jawaban seperti itu. Jika dia memiliki pola jawaban seperti yang telah dipaparkan diatas sebaiknya jawabannya dibenarkan saja. Tetapi jika jawaban tersebut berasal dari kakaknya yang memberikan jawaban langsung tanpa cara mengerjakannya sebaiknya disalahkan saja. Karena nilai kreativitasnya adalah nol besar ketika dia tidak mau mencari jawabannya sendiri dan hanya merengaek kepada kakak atau orang tuanya šŸ™‚

Polemik PR Matematika SD kelas 2 Di Semarang

 

Kasih masukanmu di sini