Teori Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian

Posted on

Kepribadian menunjuk pada pengaturan sikap-sikap seseorang untuk berbuat, berpikir, dan merasakan, khususnya apabila dia berhubungan dengan orang lain atau menanggapi suatu keadaan. Kepribadian mencakup kebiasaan, sikap, dan sifat yang dimiliki seseorang apabila berhubungan dengan orang lain. Konsep kepribadian merupakan konsep yang sangat luas, sehingga sulit untuk merumuskan satu definisi yang dapat mencakup keseluruhannya. Efek dari kepribadian adalah hubungan sosial dengan orang lain atau sering kita sebut sosialisasi. Kepribadian seseorang sangat menentukan posisi atau image seseorang dalam bersosial. Berikut ini adalah ulasan atau Teori Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian

Teori Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian

 

TEORI SOSIALISASI

A. PENGERTIAN BERSOSIALISASI

Secara sederhana sosialisasi bisa disebut dengan istilah bergaul. Melakukan hubungan atau kontak dengan orang lain sesama Individu. Dari pergaulan tersebut akan dihasilkan nilai, norma dan pola perilaku individu/kelompok. Lambat laun nilai dan norma itu akan diserap sebagai pengembangan kepribadian suatu individu/kelompok. Untuk memahami kosep sosial, kita tidak bisa hanya berangan angan saja. Berikut ini adala beberapa konsep yang disampaikan oleh beberapa ahli:
1. Charlotte Buhler
Definisi Sosialiasi adalah proses yang membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan diri terhadap bagaimana cara berpikir kelompoknya, agar ia dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya.
2. Koentjaningrat
Sosialisasi adalah seluruh proses dimana seorang individu sejak masa kanak-kanak sampai dewasa, berkembang, berhubungan dan menyesuaikan diri dengan individu lain yang hidup dalam masyarakat sekitarnya. 
3. Irvin L. Child
 Sosialisasi adalah segenap proses yang menuntut individu mengembangkan potensi tingkah laku aktualnya yang diyakini kebenarannya dan telah menjadi kebiasaan serta sesuai dengan standar dari kelompoknya.
4. Peter L. Berger
Sosialisasi adalah proses belajar seorang anak yang ingin menjadi anggota yang berpartisipasi di masyarakat.
Kita bisa sedikit menyimpulkan bahwa sosialisasi itu adalah proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati  norma dan nilai masyarakat tempat ia menjadi anggota, sehingga terjadi pembetukan sikap untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan atau perilaku masyarakatnya.
Setiap orang harus mengetahui tujuan dari bersosialisasi agar lebih mawas dan lebih menghargai perannya di masyarakat. berikut ini adalah beberapa tujuan dari bersosialisasi :
B. TUJUAN BERSOSIALISASI
1. Memberi keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan seseorang.
2. Mengembangkan kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara efektif dan efisien.
3. Mengetahui hal yang baik dan buruk dalam masyarakat.
4. Menanamkan nilai dan kepercayaan pokok yang ada pada masyarakat

C. TAHAPAN-TAHAPAN SOSIALISASI

Kita tidak serta merta mendapatkan peran dalam suatu masyarakat. Setiap hal yang menyangkut kehidupan manusia pasti memiliki tahapan tahapan, berdasarkan pada kehidupan manusia yang terus berkembang. Begitu juga dalam bersosial, terdapt tahapan tahapan yang harus dilalui. George Herbert Mead dalam bukunya yg berjudul Mind, Self and Society from the Standpoint of Social Behaviorist (1972) berpendapat bahwa sosialisasi diklasifikasikan melalui tahap-tahap berikut ini :
1. Tahap Persiapan (Preparatory stage)
Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya.
2. Tahap Meniru (Play stage)
Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang
dewasa.
3. Tahap Siap Bertindak (Game stage)
Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan peran yang secara langsung dimainkan sendiri
dengan penuh kesadaran.
4. Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalizing stage)
Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas.

D. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SOSIALISASI

1. Faktor Intrinsik
Faktor yang berasal dari dalam diri seseorang yang melakukan sosialisasi.
2. Faktor Ektrinsik
Faktor yang berasal dari pengaruh lingkungan di sekitarnya

E. POLA SOSIALISASI

1. Sosialisasi Represif
Sosialisasi yang lebih menekankan penggunaan hukuman, terutama hukuman fisik terhadap kesalahan yang dilakukan anak. Adapun ciri-ciri sosialisasi represif di antaranya adalah sebagai berikut.
  • Menghukum perilaku yang keliru.
  • Adanya hukuman dan imbalan materiil.
  • Kepatuhan anak kepada orang tua.
  • Perintah sebagai komunikasi.
  • Komunikasi nonverbal atau komunikasi satu arah yangberasal dari orang tua.
2. Sosialisasi Partisipatif
Pola ini lebih menekankan pada interaksi anak yang menjadipusat sosialisasi.
  • Memberikan imbalan bagi perilaku baik.
  • Hukuman dan imbalan bersifat simbolis.
  • Otonomi anak.
  • Interaksi sebagai komunikasi.
  • Komunikasi verbal atau komunikasi dua arah, baik dari anak maupun dari orang tua

F. MEDIA SOSIALISASI

1. Keluarga
Keluarga merupakan media sosialisasi yang pertama dan utama atau yang sering dikenal dengan istilah media sosialisasi primer.
2. Teman Sepermainan
Pada tahap ini anak mempelajari aturan-aturan yang mengatur orang-orang yang kedudukannya sejajar. Dalam kelompok teman sepermainan, anak mulai mempelajari nilai-nilai keadilan.
3. Sekolah
Di sekolah seorang anak akan belajar mengenai hal-hal baru yang tidak ia dapatkan di lingkungan keluarga maupun teman sepermainannya. Selain itu juga belajar mengenai nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat sekolah.
4. Lingkungan Kerja
Dalam melakukan interaksi di lingkungan kerja, setiap orang harus menjalankan peranan sesuai dengan kedudukannya. Jadi,lingkungan kerja telah melahirkan peranan seseorang sesuai dengan jabatan atau Kedudukannya yang memengaruhi tindakannya sebagai anggota masyarakat.
5. Media Massa
Pesan-pesan yang ditayangkan melalui televisi dapat mengarahkan masyarakat ke arah perilaku Proporsional (sesuai dengan norma-norma masyarakat) atau perilaku antisosial.

G. BENTUK SOSIALISASI

1. Sosialisasi Primer
Menurut Peter L. Berger dan Luckmann, sosialisasi primer adalah sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga).
2. Sosialisasi Sekunder

Merupakan proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Dalam sosialisasi sekunder, yang berperan adalah pihak-pihak di luar keluarga, seperti sekolah, teman sepermainan, media massa, dan lingkungan kerja.

Bentuk sosialisasi sekunder yang ada di masyarakat adalah resosialisasi dan desosialisasi.
Resosialisasi : Suatu proses sosialisasi di mana seseorang diberi identitas baru. Misalnya seseorang yang dirawat di rumah sakit jiwa mendapat identitas baru sebagai orang yang sakit jiwa.
Desosialisasi : Suatu proses sosialisasi di mana seseorang mengalami pencabutan identitas diri yang lama. Misalnya orang yang telah selesai menjalani masa hukuman dan menjadi anggota masyarakat kembali, maka identitasnya sebagai narapidana telah tercabut.

H. TIPE SOSIALISASI

1. Tipe Formal
Sosialisasi tipe ini terjadi melalui lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara. Pada tipe sosialisasi ini, biasanya ada aturan-aturan yang sifatnya mengikat dan
harus dipatuhi oleh semua anggota lembaga, serta tidak dilandasi oleh sifat kekeluargaan.
2. Tipe Informal
Sosialisasi tipe ini terdapat di dalam masyarakat atau dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan, seperti antarteman, sahabat, dan kelompok-kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat.

TEORI PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN

 

A. PENGERTIAN KEPRIBADIAN

Kepribadian merupakan Sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang yang membedakan dengan orang lain. berikut Ini adalah pendapat para ahli tentang pengertian kepribadian
1. M.A.W Brower
Kepribadian adalah corak tingkah laku sosial yang meliputi corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini, dan sikap-sikap seseorang.
2. Koentjaningrat
Kepribadian adalah suatu susunan dari unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau tindakan seseorang.
3. Theodore R. Newcomb
Kepribadian adalah organisasi sikap-sikap yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku.
4. Yinger
Kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi.
5. Roucek dan Warren
Kepribadian adalah organisasi faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari perilaku seseorang.Dari pengertian yang diungkapkan para ahli tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kepribadian adalah ciri dan sifat khas yang mewakili sikap seseorang yang mencakup pola pemikiran dan perasaan, konsep diri, perangai dan mentalitas yang umumnya sejalan dengan kebiasaan umum.

B. UNSUR DALAM KEPRIBADIAN

1. Pengetahuan
Pengetahuan seseorang bersumber dari pola pikir yang rasional, yang berisi fantasi, pemahaman, dan pengalamanm mengenai bermacam-macam hal yang diperolehnya dari lingkungan yang ada di sekitarnya.
2. Perasaan
Perasaan merupakan suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang menghasilkan penilaian positif atau negatif terhadap sesuatu atau peristiwa tertentu.
3. Dorongan Naluri
Dorongan naluri merupakan kemauan yang sudah menjadi naluri setiap manusia.

C. FAKTOR YANG MEMBENTUK KEPRIBADIAN

Terdapat beberapa hal yang dapat membentuk kerpibadian seseorang menjadi berbeda dengan orang lainnya. berikut ini beberapa faktor yang mempengaruhi Kepribadian seseorang.
  • Warisan Biologis
  • Warisan Lingkungan Alam
  • Warisan Sosial/Kebudayaan
  • Pengalaman Kelompok Manusia
  • Pengalaman Unik

D. TEORI TEORI PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

1. Teori Tabula Rasa
Pada tahun 1690, John Locke mengemukakan Teori Tabula Rasa dalam bukunya yang berjudul “ An Essay Concerning Human Understanding.” Menurut teori ini, manusia yang baru lahir seperti batu tulis yang bersih dan akan menjadi seperti apa kepribadian seseorang ditentukan oleh pengalaman yang didapatkannya. Teori tersebut tidak dapat diterima seluruhnya. Kita tahu bahwa setiap orang memiliki kecenderungan khas sebagai warisan yang dibawanya sejak lahir yang akan memengaruhi kepribadiannya pada waktu dewasa.
2. Teori Cermin Diri
Teori Cermin Diri (The Looking Glass Self) ini dikemukakan oleh Charles H. Cooley. Teori ini merupakan gambaran bahwa seseorang hanya bisa berkembang dengan bantuan orang lain. Ada tiga langkah dalam proses pembentukan cermin diri.
  • Imajinasi tentang pandangan orang lain terhadap diri seseorang, seperti bagaimana pakaian atau tingkah lakunya di mata orang lain.
  • Imajinasi terhadap penilaian orang lain tentang apa yang terdapat pada diri masing-masing orang. Misalnya, pakaian yang dipakai.
  • Perasaan seseorang tentang penilaian-penilaian itu, seperti bangga, kecewa, gembira, atau rendah diri.

Tapi di teori ini terdapat kelemahannya,yaitu Pertama, pandangan Cooley dinilai lebih cocok untuk memahami kelompok tertentu saja di dalam masyarakat yang memang berbeda dengan kelompok-kelompok lainnya. Kedua, teori ini dianggap terlalu sederhana. Cooley tidak menjelaskan tentang suatu kepribadian dewasa yang bisa menilai tingkah laku orang lain dan juga dirinya.

3. Teori Diri AntiSosial

Teori ini dikemukakan oleh Sigmund Freud. Dia berpendapat bahwa diri manusia mempunyai tiga bagian, yaitu id, superego, dan ego.
  • Id : Pusat nafsu serta dorongan yang bersifat naluriah, tidak sosial, rakus, dan antisosial.
  • Ego : Bagian yang bersifat sadar dan rasional yang mengatur pengendalian superego terhadap id. Ego secara kasar dapat disebut sebagai akal pikiran.
  • Superego:  Kompleks dari cita-cita dan nilai-nilai sosial yang dihayati seseorang serta membentuk hati nurani atau disebut sebagai kesadaran sosial.
4. Teori Ralph dan Conton
Setiap kebudayaan menekankan serangkaian pengaruh umum terhadap individu yang tumbuh di bawah kebudayaan itu.
5. Teori Subkultural Soerjono Soekanto
Teori ini mencoba melihat kaitan antara kebudayaan dan kepribadian dalam ruang lingkup yang lebih sempit, yaitu kebudayaan khusus (subcultural). Dia menyebutkan ada beberapa tipe kebudayaan khusus yang Memengaruhi kepribadian, yaitu sebagai berikut.
  • Kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan
  • Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda
  • Kebudayaan khusus kelas sosial
  • Kebudayaan khusus atas dasar agama
  • Kebudayaan khusus atas dasar pekerjaan atau keahlian

E. TAHAP TAHAP PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

1. Fase Pertama
Dimulai sejak anak berusia satu sampai dua tahun, ketika anak mulai mengenal dirinya sendiri. Pada fase ini, kita dapat membedakan kepribadian seseorang menjadi dua bagian penting, yaitu sebagai berikut.
  • Bagian yang pertama berisi unsur-unsur dasar atas berbagai sikap yang disebut dengan attitudes yang kurang lebih bersifat permanen dan tidak mudah berubah di kemudian hari.
  • Bagian kedua berisi unsur-unsur yang terdiri atas keyakinan-keyakinan atau anggapan-anggapan yang lebih fleksibel yang sifatnya mudah berubah atau dapat ditinjau kembali di kemudian hari.
2. Fase Kedua
Fase ini merupakan fase yang sangat efektif dalam membentuk dan mengembangkan bakat-bakat yang ada pada diri seorang anak. Fase ini diawali dari usia dua sampai tiga tahun. Fase ini berlangsung relatif panjang hingga anak menjelang masa kedewasaannya sampai kepribadian tersebut mulai tampak dengan tipe-tipe perilaku yang khas yang tampak dalam hal-hal berikut ini.
  • Dorongan
  • Naluri
  • Emosi
  • Perangai
  • IQ
  • bakat
3. Fase Ketiga
Pada proses perkembangan kepribadian seseorang, fase ini merupakan fase terakhir yang ditandai dengan semakin stabilnya perilaku-perilaku yang khas dari orang tersebut.

F. TIPE TIPE KEPRIBADIAN

Setelah kepribadian terbentuk secara permanen, maka dapat diklasifikasikan tiga tipe kepribadian, yaitu kepribadian normatif, kepribadian otoriter, dan kepribadian perbatasan.
1. Kepribadian Normatif
Kepribadian ini merupakan tipe kepribadian yang ideal, di mana seseorang mempunyai prinsip-prinsip yang kuat untuk menerapkan nilai-nilai sentral yang ada dalam dirinya sebagai hasil sosialisasi pada masa sebelumnya.
2.. Kepribadian Otoriter
Tipe ini terbentuk melalui proses sosialisasi individu yang lebih mementingkan kepentingan diri dari pada kepentingan orang lain.
3. Kepribadian Perbatasan
Kepribadian ini merupakan tipe kepribadian yang relatif labil di mana ciri khas dari prinsip-prinsip dan perilakunya seringkali mengalami perubahan-perubahan, sehingga seolah-olah seseorang itu mempunyai lebih dari satu corak kepribadian.

BACA JUGA :

Kasih masukanmu di sini