Penjelasan Teori Belajar Humanistik

Posted on
Jamkho produk alami

Menurut Teori Belajar Humanistik, proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, teori belajar humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian filsafat, teori kepribadian, dan psikoterapi, dari pada bidang kajian psikologi belajar. Teori humanistik sangat mementingkan isi yang dipelajari dari pada proses belajar itu sendiri serta lebih banyak berbiacara tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuk yang paling ideal.

Faktor motivasi dan pengalaman emosional sangat penting dalam peristiwa belajar, sebab tanpa motivasi dan keinginan dari pihak si belajar, maka tidak akan terjadi asimilasi pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif yang telah dimilikinya. Teori belajar humanistik berpendapat bahwa teori belajar apapun dapat dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memanusiakan manusia yaitu mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang yang belajar, secara optimal.

Penjelasan Teori Belajar Humanistik

Language apps for kids unionwirelessnews.wordpress.com

Teori belajar humanistik bersifat sangat eklektik yaitu memanfaatkan atau merangkumkan berbagai teori belajar dengan tujuan untuk memanusiakan manusia dan mencapai tujuan yang diinginkan karena tidak dapat disangkal bahwa setiap teori mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Banyak tokoh penganut aliran belajar humanistik, diantaranya:

1. Kolb

Pandangan Kolb tentang belajar dikenal dengan “Belajar Empat Tahap” yaitu:

a. Tahap pandangan konkret

Pada tahap ini seseorang mampu atau dapat mengalami suatu peristiwa atau suatu kejadian sebagaimana adanya namun belum memilki kesadaran tentang hakikat dari peristiwa tersebut,

b. Tahap pemgamatan aktif dan reflektif

Tahap ini seseorang semakin lama akan semakin mampu melakukan observasi secara aktif terhadap peristiwa yang dialaminya dan lebih berkembang.

c. Tahap konseptualisasi

Pada tahap ini seseorang mulai berupaya untuk membuat abstraksi, mengembangkan suatu teori, konsep, atau hukum dan prosedur tentang sesuatu yang menjadi objek perhatiannya dan cara berpikirnya menggunakan induktif.

d. Tahap eksperimentasi aktif

Pada tahap ini seseorang sudah mampu mengaplikasikan konsep-konsep, teori-teori atau aturan-aturan ke dalam situasi nyata dan cara berpikirnya menggunakan deduktif.

2. Honey dan Mumford

Honey dan Mumford menggolongkan orang yang belajar ke dalam empat macam atau golongan, yaitu:

a. Kelompok aktivis

Yaitu mereka yang senang melibatkan diri dan berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh pengalaman-pengalaman baru.

Karakteristik :

  1. Senang melibatkan diri dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan untuk meperoleh pengalaman yang baru
  2. Mudah diajak berdialog
  3. Mempunyai pemikiran yang terbuka
  4. Menghargai pendapat orang lain
  5. Mudah percaya pada orang lain
  6. Kurang pertimbangan yang matang dalam melangkah.

b. Kelompok reflector

Yaitu mereka yang mempunyai kecenderungan berlawanan dengan kelompok aktivis. Dalam melakukan suatu tindakan kelompok ini sangat berhati-hati dan penuh pertimbangan.

Karakteristik :

  1. Sangat berhati-hati dan penuh pertimbangan dalam mengambil keputusan
  2. Tidak mudah dipengaruhi orang lain
  3. Cenderung bersifat konservatif

c. Kelompok teoris

Yaitu mereka yang memiliki kecenderungan yang sangat kritis, suka menganalisis, selalu berpikir rasional dengan menggunakan penalarannya.

Karakteristik :

  1. Sangat kritis
  2. Suka menganalisis
  3. Selalu berpikir rasional dengan menggunakan penalaran
  4. Segala sesuatu dikembalikan pada teori dan konsep
  5. Tidak menyukai pendapat / penilaian yang subyektif
  6. Tidak menyukai hal-hal yang spekulatif
  7. Mempunyai pendirian yang kuat
  8. Tidak mudah dipengaruhi orang lain

d. Kelompok pragmatis

Yaitu mereka yang memiliki sifat-sifat praktis, tidak suka berpanjang lebar dengan teori-teori, konsep-komsep, dalil-dalil, dan sebagainya.

Karakteristik :

  1. Praktis, tidak suka bertele-tele dengan suatu teori/konsep
  2. Sesuatu berguna apabla dapat dilaksakanan/ dipraktekkan bagi kehidupan manusia

3. Habermas

Menurut Habernas, belajar baru akan tejadi jika ada interaksi antara individu dengan lingkungannya. Ia membagi tipe belajar menjadi tiga, yaitu:

a. Belajar teknis (technical learning)

Yaitu belajar bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan alam secara benar. Seseorang harus menguasai pengetahuan dan ketrampilan agar dapat menguasai dan mengelola lingkungan dengan benar.Dal hal ini ilmu alam sangat diperlukan.

b. Belajar praktis (practical learning)

Yaitu belajar bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan social ( orang-orang yang ada disekeliling ) secara baik. Bidang ilmu sosiologi, komunikasi, psikologi, antropologi dan seenisnya sangtlah dibutuhkan dalam belajar praktis. Namun demikian tidak berarti lingkungan alam diabaikan.

c. Belajar emansipatoris (emancipatory learning)

Belajar emansipatoris menekankan pada upaya seseorang mencapai suatu pemahaman dan kesadaran yang tinggi akan terjadinya perubahan atau transformasi budaya dalam lingkungan sosialnya. Ilmu-ilmu yang berhubungan dengan bahasa dan budaya sangat dibutuhkan. Tahap ini oleh Habermas dianggap tahap belajar yang paling tinggi, karena transformasi kultural adalah tujuan pendidikan yang tertinggi.

4. Bloom dan Krathwohl

Bloom dan Krathmohl lebih menekankan perhatiannya pada apa yang mesti dikuasai oleh individu (sebagai tujuan belajar), setelah melalui peristiwa-peristiwa belajar. Tujuan belajarnya dikemukakan dengan sebutan Taksonomi Bloom, yaitu:

a. Domain kognitif, terdiri atas 6 tingkatan, yaitu:

  1. Pengetahuan
  2. Pemahaman
  3. Aplikasi
  4. Analisis
  5. Sintesis
  6. Evaluasi

b. Domain psikomotor, terdiri atas 5 tingkatan, yaitu:

  1. Peniruan
  2. Penggunaan
  3. Ketepatan
  4. Perangkaian
  5. Naturalisasi

c. Domain afektif, terdiri atas 5 tingkatan, yaitu:

  1. Pengenalan
  2. Merespon
  3. Penghargaan
  4. Pengorganisasian
  5. Pengalaman

Teori belajar humanistik akan sangat membantu para pendidik dalam memahami arah belajar pada dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun dan pada konteks manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untuk mencapai tujuannya. Meskipun teori humanistik sering dikritik karena sulit diterapkan dalam konteks yang lebih praktis dan dianggap lebih dekat dengan bidang filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi dari pada bidang pendidikan, sehingga sulit diterjemahkan ke dalam langkah-langkah yang lebih konkret dan praktis. Namun sumbangan teori ini amat besar. Ide-ide, konsep-konsep, taksonomi-taksonomi tujuan yang telah dirumuskannya dapat membantu para pendidik dan guru untuk memahami hakikat kejiwaan manusia.

Dalam praktiknya teori ini cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.

BACA JUGA :

Kasih masukanmu di sini